Archive for November, 2007

kaum dhuafa

Monday, November 26th, 2007

Beberapa waktu yang lampau, saya sempat dikagetkan dengan pemberitaan di media yang menyatakan bahwa awal tahun 2008, akan diterapkan Perda Pelarangan memberi uang kepada pengemis dan pengamen di  Jakarta. Hati saya miris.


 

Bagaimana ini ? Saya mempertanyakannya kepada Islam.

 

Konsep keadilan Islam dalam kelayakan hidup bukan dengan menyamaratakan semua manusia. Seperti yang ditawarkan salah satu isme. Karena justru tidak adil, ketika menyamaratakan bagian untuk usaha dan cara kerja yang berbeda. Konsep keadilan Islam juga bukan menganggap kaum dhuafa sebagai sampah masyarakat. Sebagai lalat pembawa beban dan penyakit, yang pantas bahkan (bisa jadi wajib) untuk disingkirkan.

 

Adil adalah mendapatkan bagian sesuai usaha dan cara kerja kita, dengan menyadari kekuasaan mutlak Allah untuk menentukan bagian itu. Yang ini tidak bisa diganggu ganggu. Dengan adanya perbedaan bagian (rezeki) ini, dalam Islam diatur cara untuk merapatkan kesenjangan. Dengan zakat (yang sekaligus pensuci harta), dengan memelihara anak yatim, dan memberi makan orang miskin. Islam menganggap “menyelamatkan” kaum dhuafa adalah cara untuk beribadah kepada Allah.  Kita sebenarnya, menyelamatkan kaum dhuafa untuk menyelamatkan diri kita.

 

Untuk anak yatim, Islam memerintahkan untuk memeliharanya (1). Memuliakannya (2). Tidak boleh berlaku sewenang-wenang (3). Menjaga hartanya ( kalau ada), sampai anak yatim tersebut dewasa, mandiri dan bisa mengurus hartanya (4).

 

Untuk fakir miskin, kita harus menganjurkan orang untuk memberi makan. Kalau tidak, bahaya, cap kita adalah pendusta agama (5) . Fakir miskin juga termasuk kedalam golongan yang berhak menerima zakat pun harta rampasan perang dari umat muslim (6).

 

Perlu ditekankan, bahwa defenisi Islam untuk orang yang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya, dan tidak pernah berfikir untuk diberi sedekah dan tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain (7) . Jadi orang seperti inilah, yang menyebabkan anda menjadi pendusta agama saat tidak menganjurkan untuk memberinya makan. Dan orang seperti inilah yang berhak terhadap zakat dan bagian dalam harta fa’i.

 

Meminta-minta didalam Islam sangatlah tidak dianjurkan. Ia hanya pilihan untuk kondisi sangat genting. Kepepet kata orang kita. Karena banyaknya keburukan yang didapat dari meminta. Ketika meminta-minta, orang akan otomatis kehilangan keberkahan harta (8). Dan sesuai konteks, meminta itu untuk menyelamatkan diri dari kondisi kepepet,maka harus sedikit saja. Secukupnya untuk menutupi kekurangan yang ada, tidak boleh untuk memperkaya diri, karena sama dengan meminta bara api (9). Untuk itu, dalam kondisi yang melaratpun, umat Islam harus tetap berusaha mandiri dengan jalan halal. Keringanan dengan jalan meminta-minta ini hanya diperbolehkan karena tiga sebab, yaitu :

- pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya; kemudia ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;

- kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,

- yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan" si fulan benar-benar miskin" maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak.

 

Selain tiga hal diatas, Rasul menyatakan usaha meminta-minta adalah haram.

 

Dari pemaparan jalan yang ditawarkan Islam diatas jelas bahwa menurunkan Perda Pelarangan Memberi Uang Kepada Pengemis, tidak bijak. Apalagi dengan tujuan utama, kebersihan dan ketertiban. Si Penguasa sama dengan menzalimi pengemis-pengemis dan gelandangan. Tapi terlebih dahulu, dia menzalimi diri sendiri dengan menimbun gunugan dosa kezhaliman.

 

Untuk kondisi seperti

Jakarta

( dan daerah lainnya ), jalan penyelesaian terbijak adalah dengan pendidikan dan pembinaan. Terlebih dahulu yang dipikirkan penghidupan apa yang dapat mereka usahakan jika tidak mengemis. Lalu di didik dan dibina sehingga mereka bisa berusaha dan mencari nafkah dengan jalan itu. Dan sebaiknya diberi pinjaman modal. Baru setelah semua itu dilakukan , peraturan dibuat dan diterapkan. Kelihatan idealis, tapi ini jalan terang.

 

Islam mengakui adanya perbedaan nasib dan rezeki. Islam juga melarang umatnya meminta-minta jika tidak terpaksa. Tapi dalam Islam, peminta-minta (apalagi yang memang haknya, masuk ke tiga golongan yang diberi keringanan untuk meminta-minta) BUKAN lalat yang dengan sebuah Perda bisa disingkirkan. Betapa Zalim penguasa yang karena alasan kebersihan dan keamanan , mengambil cara pengusiran.

 

Saya jadi teringat dua kisah. Pertama tentang Amirul Mukminin Umar Bin Khattab, yang memberi keringanan hukuman orang yang mencuri karena kepepet. Ia tidak bisa mencari makan lagi, ia bisa mati kelaparan kalau tidak mencuri. Orang itu diberi keringanan, tidak dihukum potong tangan. Dan tidak sampai disitu, Umar memanggil pemimpin wilayah untuk bertanggung jawab atas rakyatnya yang kelaparan dan harus mencuri untuk makan. Yang kedua, kejadian di bulan Juli 2004, di ITB, saat PKL akan diusir. Dengan proses yang lumayan alot, KM berhasil membujuk ITB untuk membiayai pelatihan dan modal usaha untuk pedagang yang diusir.

 

Hendaknya seperti dua kisah ini. Pemerintah DKI (dan daerah lain), jangan pernah menganggap pengemis sebagai sampah, tapi sebagai amanah yang harus di penuhi haknya. Karena ada beribu catatan buruk yang harus dipertanggung jawabkan di hari yang dijanjikan, saat hak ini tidak ditunaikan. Haknya adalah mendapat pelatihan dan pendidikan. Bila perlu bekali dengan sedikit modal. Dampingi, hingga mereka mandiri. Karena kemandirian mereka bisa jadi jalan menuju surga.

 

Tidak gampang. Sulit malah. Tapi inilah harga untuk mereka yang mengharapkan masuk ke satu dari tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah, dimana tidak ada lagi lindungan yang diberikan. Posisi kehormatan sangat special. Pemimpin yang adil.

Pemimpin yang adil.

 

Semoga kau mendengar.

 

 

 

 

 

 

(1) Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari)

(2) Al Fajr : 17

(3) Ad Dhuha : 9

(4) Al Israa : 34, Al Baqarah : 220, An Nisa : 2, An Nisa : 6

(5) Al Maun : 3

(6) Al Anam : 141, Al Baqarah : 177, Al Anfaal : 41, Al Hasyr : 7

(7) Dari abu hurairah ra. ia berkata rasulullah saw bersabda; "bukan dinamakan orang miskin, orang yang meminta-minta kemudian ia tidak memperoleh sesuap dan dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah butir kurma tapi yang dinamakan orang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya  dan tidak pernah berpikir untuk diberi sedekah dan ia juga tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain (HR Bukhari dan Muslim ) 

(8) Dari hakim bin hizam ra. ia berkata; saya meminta kepada rasulullah saw, maka beliau memberi saya ; kemudian saya meminta lagi kepada beliau dan beliau memberi saya lagi. kemudia beliau bersabda; " Hai hakim, sesungguhnya harta itu memang manis dan mempesonakan. siapa saja mendapatkannya dengan kemurahan jiwa, maka ia mendapatkan berkah, tetapi siapa saja mendapatkannya dengan meminta-minta, maka ia tidak akan mendapatkan berkah, ia bagaikan orang yang sedang makan tetapi tidak pernah merrasa kenyang. Tangan di atas (yang memberi , lebih baik daripada tangan dibawah ; hakim berkata; wahai rasulullah , demi zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak akan menerima  sesatu pun dari seseorang seduah pemberianmu ini sampai saya meninggal dunia (HR Bukhari dan Muslim )

(9) Dari abu hurairah ra ia berkata; rasulullah saw bersabda; "siapa saja yang meminta- minta kepada sesama manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta kekayaan, maka sesusungguhnya ia meminta bara api; sehingga terserah kepadanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya (HR Muslim )

(10) Dari abu bisyr Qabishah bin al Mukhariq ra, ia berkata; saya adalah orang yang menanggung beban amat berat, maka saya mendatangi rasulullah saw untuk meminta bantuannya meringankan beban itu, kemudia beliau bersabda " tunggulah  sampai ada zakat yang datang ke sini, nanti akan aku suruh si amil (pengumpul dan pembagi zakat) untuk memberi bagian kepadamu , kemudia beliau bersabda; Wahai Qabishah , meminta-minta  itu tidak diperbolehkan  kecuali ada salah satu dari 3 sebab;

- pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya; kemudia ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;

- kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,

- yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan" si fulan benar-benar miskin" maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak,

wahai Qabishah meminta-minta selain disebabkan tiga hal tadi adalah usaha yang haram dan orang yang memakannya berarti ia makan barang haram (HR  Muslim )

 

 

Islam itu Obat Kehidupan

Thursday, November 22nd, 2007

Islam itu obat kehidupan.

Kalau sakit kita anggap celaka, dan sehat sebagai selamat. maka untuk beranjak dari titik sakit menuju sehat kita harus minum obat.

Dalam konteks keselamatan dunia dan akhirat , Islam itu satu-satunya jalan keselamatan. Islam itulah obat. yang mengantarkan kita dari keadaan celaka, ketitik selamat.

Sebagaimana obat yang harus diminum, ia harus diamalkan. ini bukan agama wacana (saja). ini agama amal. tidak sembuh orang yang tahu panadol yang diminum tiga kali sehari dapat menghilangkan pusing, tapi tidak mengamalkannya. serupa dengan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. dan "obat-obat" lainnya.

Dan bila perlu, untuk memastikan obat ini sesuai, kita akan kedokter untuk konsultasi. Mungkin saja panadol yang dikatakan iklan sebagai obat pusing, sebenarnya paling tepat untuk penyakit demam. Sebagaimana kita perlu berkonsultasi tentang masalah hidup dengan Al Quran dan tafsirannya (dari Ahli Tafsir), Sunnah Rasul dari periwayatan yang Shahih, dan pendapat Ulama yang terpercaya.

Tidak bisa asal-asalan. ..

Yang bukan dokter tidak boleh mengeluarkan resep sembarangan. Malah akan menyebabkan "keracunan massal". ( tanyalah kepada yang tahu, apa yang tidak kamu ketahui )

Islam itu obat kehidupan. kalau untuk mencapai keselamatan yg temporer saja kita patuh pada dokter, minum obat sehari tiga kali. kenapa untuk keselamatan abadi diri kita masih ragu ?!

Dalam konteks mencapai keselamatan ini, ada beberapa jenis manusia.

Ada orang yang sakit tapi tidak tau dia sakit, celakalah dia. bagaimana mau sembuh, kalau mengidap penyakitpun dia tak sadar. inilah orang yang diluar Islam. Tidak tau dan yakin tentang jalan keselamatan. ( orang yang tidak bersyahadat dan masuk kedalam Islam, kekal dalam neraka ).

Ada yang sesat. Kebodohannya membuat kasihan, kadang geram. Ia tau ia sakit. Ia tau Islam adalah obat. Tapi ia yang Doktor ilmu Pemerintahan, menganggap dirinya bisa mengeluarkan resep seperti Dokter kesehatan. Sesatlah dia. Tanpa dukungan yang dalil yang jelas dan penafsiran yang kuat, dia asal menerjemahkan. Ayat mutasyabihat jadi andalan. Ayat yang "terang" di padam-padamkan. Hadist yang shahih di pinggirkan, yang dhaif di kuat-kuat kan. Ritual ibadah, di ada-adakan….. Ada yang mengaku tak perlu lagi shalat, kalau sudah bisa menyatu dengan Allah. Ada yang menjadikan "terbang" sebagai maqom keshalehan. Bahkan yang mengaku menjadi Rasul ke 26.

Ada yang pantas dimurkai. Bebal sekali. Ia tau ia sakit.tapi ia datang kedokter, dengan minat mengikuti nafsunya bertanya tanpa etika, dan berpikir mengawang tanpa batasan. Kepada dokter yang ahli, ia tanyakan : " kenapa minum obat harus 3 X sehari dok?". "Kandungan obatnya apa aja dok? Cara mengolahnya bagaimana? Bahan dasarnya apa aja? Persentasenya?". Setelah diskusi panjang lebar berjam-jam, tetap obat tak di minum, resep dokter tak di gunakan. Bisa diprediksi nasib orang ini…..Mengapa imam laki-laki? Bolehkan imam shalat Jumat perempuan? Haji itu ada karena jeniusnya Muhammad mengadopsi ritual bangsa Arab kan?

Yang selamat adalah yang mukmin. Yang tau dia sakit. tau harus kedokter. tau resep dari dokternya. dan yang penting " DIA MINUM OBATNYA". dia "minum" rukun islam, rukun iman, dan semua obat-obat yang menjanjikan jalan keselamatan. d

ia sadar penuh, tanpa Islam ia akan menghadapi kecelakaan . dia tahu, untuk menghindari kesalahan dia ke dokter. dia shalat, dan agar tidak salah ia bertanya pada dokter " Sunnah". dia berpakaian, agar tidak melenceng dia bertanya pada dokter " Quran, Sunnah, dan pembahasan ulama" . dia mengerti benar, untuk menjadi dokter dia harus kuliah dulu. belajar kitab dan praktik kedokteran. dia pelajari Al Quran, Hadist,Ushul Fiqih,Asbabun Nuzul, Asbabul Wurud,kitab-kitab fatwa ulama dan pembahasannya.

itulah jalannya. tau sakit. tau obatnya. tau dokternya. dan meminum obat sesuai resep dokter. Itulah jalan orang mukminin. jalan menuju pintu-pintu keselamatan.

Ya Allah, masukkanlah aku ke golongan mukminin. Tunjukilah aku jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Engkau Murkai, bukan jalan orang-orang yang sesat.